Mentari
pagi yang cerah menghangatkan setiap insan pencari butiran-butiran ilmu. Doanya
tak pernah berhenti agar Sang Agung menemani langkah-langkahnya mencerdaskan
insan sekitarnya. Siapa yang tidak mengingikan mulia hidup dengan ilmu? Bahkan
angin pun berdecak kagum menatap jihad ikhlasnya meniti hidup menjadi insan
yang bermanfaat. Disinilah tempat yang kuharap kelak aku dapat menggantikan
kemuliaannya. Ia tak pernah mengeluh atas gelegar petir yang membisikkan balasan
jasanya yang tak akan pernah dapat membayar rasa lelahnya. Ialah haruman bunga
yang semerbak wanginya menaburkan benih kecerdasan dan kemuliaan akhlaq pada
insan lainnya.
Inilah mimpi yang tak pernah lupa
hatiku mengucap harapan setiap merindu-Nya diatas sajadah cinta. Harapan
menjadi insan yang cerdas, berakhlaq dan bermanfaat dengan membimbing sekitarku
agar mencintai ilmu-Nya. Maka tak pernah aku berhenti mengejar ketertinggalanku
atas secuil ilmuNya agar kelak saat emban amanah itu diletakkannya diatas
pundakku aku tak akan mudah berputus asa menghadapi kesulitan dalam mencerdaskan
lingkunganku.
Betapa tinggi imajinasiku sebagai
ungkapan doa untuk menjadi seorang pengajar dalam usia belia. Mendirikan sebuah
taman baca dan rumah ilmu untuk anak-anak yang ekonominya tidak mampu menopang
biaya studi mereka, memberi mereka asupan gizi yang lebih baik dalam menu siang
mereka dan memberi mereka motivasi agar mereka selalu bersemangat menyambut
ilmu baru yang kelak sangat penting untuk masa depan mereka, pula menjadikan taman baca dan rumah ilmu itu sebagai naungan
bagi mereka dimana mereka bahagia menghabiskan waktu mereka untuk belajar dan
membaca buku-buku ilmu disana.
Sungguh tenang menatap polos pribadi
mereka yang seluruh harapan mereka masih suci yang tercermin dari senyuman
mereka, bening matanya dan suci harapan mereka. Semua hal itu ialah seperti
tetesan air syurga yang mengalir perlahan dalam hati yang menyejukkan haus
keringnya kerongkonganku. Dengannya aku akan melangkah dengan penuh keyakinan
dan rasa percaya diri untuk mencintai, menyayangi dan membimbing mereka menuju
mulia griya ilmu dunia dan akhirat-Nya. Dan setiap peluh yang menetes, aku
tidak pernah menginginkan keluhan akan keluar dari lisan bahkan bathinku atas
sedikitnya waktu untukku beristirahat demi mencerdaskan mereka yang selalu
datang mencium tanganku untuk menyambut kedatanganku. Karena itulah mata hati dan bathinku
terbuka untuk membawa mereka bersama mimpinya untuk mewujudkan harapan-harapan
mereka dengan kesungguhan bejajar dan kejujuran yang penuh.
Menjadi sang cerdas yang dalam usia
belianya menjadi sosok pengajar yang sabar membimbing murid-muridnya, aku tak
akan lupa akan kewajibanku untuk tidak hanya mendidik kecerdasan akal mereka
saja, namun juga
kecerdasan dan kebijaksanaan emosional mereka, agar mereka menjadi manusia yang cerdas
dan berakhlaq,
karena dunia sudah tidak lagi membutuhkan manusia yang hanya cerdas dalam otak
saja, namun dunia ini
sudah waktunya dipimpin oleh sosok yang cerdas dalam otak bahkan juga dengan
kecerdasan emosional dan spiritual yang dapat menuntun kebijaksanaan untuk
menyelesaikan kerusuhan mereka sehingga mereka dapat menata kekacauan yang kini
terjadi di dunia kita.
Memang jalan yang kita tempuh tak
akan selamanya lurus, akan ada waktu dimana kita akan belok menikuk tajam entah
ke kanan atau ke kiri. Begitu pun seorang pengajar tak jarang akan banyak
hujatan yang berusaha menjatuhkan kita,
namun kita harus yakin jalan benar yang telah kita pilih dan ikhtiar kita untuk
selalu menjunjung tinggi panji ilmu-Nya, maka Allah tak akan segan-segan untuk
membantu memecahkan masalah yang kita hadapi saat ini.
Tetap
berjihad wahai sang pemimpi akan terwujudnya menjadi sosok pengajar muda.
Cerdaskan generasimu, karena merekalah tunas harapan bangsa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar